Konservasi dan Religi

April 2nd, 2008 by lennychristy

Sejak mulai bekerja kurang lebih 12 tahun yang lalu di bidang non profit yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan konservasi, sudah banyak sekali workshop atau lokakarya yang saya hadiri. Baik yang diselenggarakan di Ibukota Provinsi, Ibukota Kota Kabupaten, Ibukota kecamatan maupuan di kampung. Baik yang mengambil tempat di hotel berbintang lima, hotel berbintang tiga, hotel melati, di ruang serba guna, ruang meeting, rumah penduduk, balai desa dan yang paling unik adalah lokakarya yang saya hadiri di kersik (hamparan batu putih di pinggir hulu sungai).

Dari kesemua lokakarya tersebut, biasanya pesertanya adalah pegawai pemerintah dari instansi-instansi terkait, pegawai pemprov, pemkab, kecamatan, kepala desa, tokoh adat, LSM, Lembaga Kerjasama Internasional, perwakilan dari masyarakat, pengurus badan pengelola kawasan, pers, mahasiswa, pendidik, perwakilan dari lembaga peneliti, akademisi dan ilmuwan.

Namun ada yang berbeda hari ini. Hari ini saya berkesempatan untuk menghadiri Lokakarya Penyusunan Multi Criteria Evaluation untuk sebuah lansekap di Sumatera Utara. Lokakarya diadakan oleh Orangutan Conservation Service Project (OCSP) di hotel berbintang di

kota

Medan

. Dari peserta yang hadir, ada seseorang yang nampak lain, sampai-sampai saat memasuki ruang workshop sebelum acara dimulai, saya fikir saya salah masuk ruangan. Saat itu saya melihat seorang Bhikkhu. Awalnya saya kira ruangan tersebut adalah ruangan untuk acara religi, namun ketika saya perhatikan tulisan di depan ruangan dan melihat beberapa orang lainnya yang berpakaian dinas serta beberapa rekan dari OCSP Medan, barulah saya yakin bahwa saya tidak salah masuk.

Dari sekian banyak workshop yang terkait dengan masalah konservasi, baru kali inilah saya melihat seorang Bhikku hadir. Ia mengenakan atasan lengan panjang berwarna kuning pucat di balik jubah yang berwarna sama. Berkaos kaki panjang warna putih sampai lutut yang dikenakan diluar celana panjang yang juga berwarna kuning pucat. Ia mengenakan sepatu tipis yang kelihatannya beranyam. Menurut dugaan saya, ia adalah seorang Bhikku dari aliran Mahayana atau Tantrayana. Namun hal ini baru dugaan saja, maklumlah, karena saya belum pernah beribadah di Vihara lain selain Vihara Theravada.

Setelah acara selesai, karena masih penasaran, saya bertanya pada salah seorang rekan panitia. Menurutnya, Bhikku tersebut mewakili Yayasan Bodi Cita. Yayasan keagamaan ini ternyata dua tahun terakhir terlibat aktif dalam masalah lingkungan, dengan melakukan kegiatan-kegiatan seperti rehabilitasi lahan dan pendidikan lingkungan. Luar biasa. Itu yang terlintas di kepala saya. Betapa tidak, jujur saja, selama ini sudah banyak sekali dakwah, ceramah dan himbauan mengenai kepedulian terhadap alam dan lingkungan. Namun hanya sebatas itu. Sebatas dakwah, ceramah dan himbauan. Sesuatu yang masuk telinga dan langsung menguap begitu saja tanpa pernah punya kesempatan untuk mengendap di otak barang sekejap. Dan yang paling miris adalah, tidak jarang saya menemukan orang yang sangat pandai merangkai kata untuk menceramahi atau mendakwahi orang lain, namun perilakunya tidak mencerminkan perkataannya. Bagaimana bisa mengajak orang lain berbuat baik sedangkan dirinya sendiri tidak konsisten?

Sudah saatnya untuk berbuat, tidak hanya sebatas wacana, tidak hanya sebatas kata-kata, tidak hanya sebatas ceramah. Salut untuk para tokoh atau aktifis keagamaan yang sudah melakukan sesuatu untuk lingkungan dan alam.

Medan

, 250308

Bookmark and Share

Kandang Monyet

March 31st, 2008 by lennychristy

Sewaktu berada di Medan untuk mengikuti workshop satu hari tentang penyusunan Multi Criteria Evaluation untuk lansekap Batang Toru, setelah selesai acara workshop saya berkesempatan untuk mengunjungi kandang monyet. Di kebun binatang? Bukan… sama sekali bukan. Kandang Monyet adalah julukan teman-teman OCSP (Orangutan Conservation Service Program) Medan untuk kantor (atau lebih tepatnya ruangan) mereka di sayap kiri bangunan utama kantor ESP.

Sempat saya bertanya kepada seorang teman di sana, mengapa ruangan tersebut mereka namakan Kandang Monyet. Bukankah lebih pas kalo dinakaman Kandang Orangutan karena program tersebut berkaitan dengan Orangutan, bukan Monyet. “Karena yang kerja di ruangan itu adalah monyet-monyet” jawabnya. J Monyet-monyet yang berkantor di sana antara lain Redho, Erwin, Rusmadi dan Ian. Di depan Kandang Monyet ada secuil ruang terbuka beratap yang dilengkapi dengan kursi dan meja taman. Sebuah dinding yang merupakan pembatas dengan rumah di sebelahnya digunakan untuk menggantungkan whiteboard. Tampak beberapa tulisan di sana. Tempat yang cukup asyik untuk rapat dan berdiskusi dengan suasana yang cukup asri.

Teman-teman di OCSP ini rata-rata suka sekali bercanda dan kompak. “Kerja kita sudah berat, jadi jangan diberat-beratin lagi, harus enjoy dan banyak bercanda” kata salah seorang kawan di sana. Hmm…. Saya sangat sepakat, sesuatu yang saya dapati agak “kurang” di tempat saya bekerja sekarang. Hanya sedikit yang memiliki mentalitas seperti itu, dan karenanya kami merasa agak “terspisah”.

Tampaknya tulisan ini harus segera saya akhiri karena saya menulis di dalam taxi yang membawa saya dari Balikpapan ke Samarinda, dan sudah tiba di bagian jalan yang sangat meliuk-liuk, naik turun, sangat tidak bersahabat bagi orang yang membaca atau mengetik.

KM 48 to Samarinda, 280308

Bookmark and Share

Ck..ck..ck.. Sudah Hampir Setahun!

September 14th, 2007 by lennychristy

Itulah kalimat yang muncul di kepala saya ketika malam ini
saya log in ke account friendster saya dan coba melirik ke bagian blog. Setelah
berunga kali saya cek, ternyata memang sudah hampir satu tahun yang lalu
terakhir kali saya posting ke blog di friendster ini.

Ck..ck..ck.. sudah hampir satu tahun!

Padahal rasanya baru saja saya upload corat-coret saya
tentang bersin. Hmmm… begitu cepat waktu terbang.. ya, terbang sepertinya kata
yang paling pas.

Ck..ck..ck.. sudah hampir satu tahun!

Begitu kesibukan dengan pekerjaan menyita waktu saya sampai
tidak pernah ada waktu untuk menengok dan mengupdate blog, apalagi seluruh isi
friendster saya..

Ck..ck..ck.. sudah hampir satu tahun!

Susah sekali saya mempercayainya..

Bookmark and Share

Bersin

September 28th, 2006 by lennychristy

Lenny_grey

Pagi ini begitu saya masuk ruangan di kantor, saya langsung membongkar 2 buah kardus yang berisi barang-barang yang belum ditata sejak pindahan kantor bulan Mei yang lalu….Bayangkan! Bulan Mei! Sekarang sudah bulan September..

Namun, sebelumnya tidak banyak yang bisa saya lakukan supaya barang-barang itu bisa tertata karena lemarinya memang belum ada. Baru ada beberapa saat yang lalu dan saya belum ada waktu sampai hari ini. Sebenarnya saya enggan untuk membongkar barang-barang, bukannya malas, tapi karena saya sudah tahu konsekuensinya. Saya pasti akan bersin-bersin dengan hebat, terus menerus, lalu mata berair, meler dan dilanjutkan kepala pening… ugghhh…

Benar saja, baru beberapa buku dan berkas yang saya bongkar, bersin-bersin sudah terjadi.. tanpa henti sampai otot perut tertarik semua… sebel.. Disambung dengan meler seperti air deras yang turun dari pancuran… bagaimana bisa cepet selesai menata barang-barang bila harus sibuk bersin, sambil memencet hidung, berusaha membendung air bah, bersin lagi..lagi..lagi…?

Hmm….. lalu seperti yang sudah saya duga, kepala saya menjadi pening..ning..ning… Akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan kegiatan bongkar membongkar ini. Dilanjutkan besok saja. Saya keluar ruangan untuk menghirup udara segar. Berharap bersin dan meler serta pening kepala bisa lebih baik. Walaupun saya tahu pasti tidak akan hilang.

Itulah salah satu masalah yang cukup serius pada saya. Alergi debu rumah. Apalagi debu buku hmmm… Kalau hanya bersin sih masih lumayan, tapi meler plus peningnya itu lho, yang sungguh merepotkan sekali. Saya sudah berkonsultasi dengan beberapa dokter ahli THT, bahkan sampai dikamera dan discan segala. Kesimpulannya sama. Alergi saya tidak dapat disembuhkan, kalau lagi parah, saya harus mengkonsumsi obat. Celakanya obat alergi ini selalu menimbulkan kantuk dan menyebabkan rasa lapar, sehingga perasaan ingin makan.. tidur.. makan.. tidur.. makan lagi…tidur lagi… Wuih…parah kan?

Konon, akibat dari alergi ini, daging dalam hidung saya membengkak, sampai menekan tulang tengah hidung sehingga agak miring (oh… my poor nose). Kalau lagi parah-parahnya, saya jadi susah bernapas karena rongga hidung yang mampet. Paling terasa pada saat mau tidur. Salah seorang ahli THT menyarankan agar hidung saya dioperasi sekalian dengan tonsil. Saat dia memeriksa, konon tonsil saya juga sudah tidak berfungsi, hanya sering menyebabkan radang tenggorokan. Waduh.. operasi? Takuuuuuutt…..

Namun walaupun demikian, saya masih merasa sangat bersyukur. Kenapa bisa? Karena sudah lebih 6 tahun asma saya tidak pernah kambuh. Asma lebih mengerikan daripada bersin, meler dan pening. Kalau sekarang reaksi alergi saya hanya bersin, meler dan pening, sedangkan dulu, begitu kena debu rumah saat bersih-bersih atau bongkar-bongkar, malamnya langsung asma saya kambuh. Jangankan tidur, mencari napas saja susahnya setengah mati walau dalam keadaan duduk. Saat itulah saya sangat-sangat iri dengan saudara-saudara saya yang lain, mereka bisa tidur dengan pulas, bernapas dengan leluasa, sedangkan saya harus berjuang setengah mati untuk menarik setiap napas ke dalam rongga paru-paru saya. Bagaimana saya tidak iri, di keluarga saya, mulai dari ayah, ibu, kakak-kakak dan adik, hanya saya yang menderita asma.

Oleh karena itu saya merasa sangat bersyukur, karena 6 tahun ini saya bisa menikmati bernapas tanpa harus bersusah payah sekuat tenaga mengembangkan paru-paru saya sampai dada terasa sakit sekali. Meskipun masih ada sedikit gangguan dengan hidung yang mampet. Sejak usia saya 5 tahun sampai awal 20-an, saya benar-benar tersiksa bila asma saya kambuh. Pemicunya bisa sangat sederhana: kehujanan, kena debu rumah, makan es, coklat atau gorengan, bahkan bila emosi lagi tidak stabil (menangis dan tertawa saja asma saya bisa kambuh!)

Semoga saja saya tidak pernah harus merasakan asma kambuh lagi. Semoga 6 tahun ini dan seterusnya saya bena-benar terbebas. Saya sangat menyadari betapa berharganya setiap tarikan napas. Betapa nikmatnya bernapas dengan bebas.

Office, 19:37, 28092006

Bookmark and Share

Announcement: My Other Blog

September 15th, 2006 by lennychristy

Dear all,

If you’re surfing the internet, please, spend a little time to visit my new blog. The URL is: http://lennychristy.blogspot.com/. Actually I was going to post my article here.  But the layout work was so frustrating :-(

Ok, wish you good time there :-)

Bookmark and Share

Amazing Moment in my Life: Fly Away!

August 5th, 2006 by lennychristy

Pemandangan alam bila dilihat dari suatu titik yang tinggi sangatlah indah. Kita bisa memandang dengan bebas ke arah manapun sepuasnya.. sejauh mata memandang, sampai ke garis horizon. Saya juga sangat menyukai pemandangan bebas lepas dari tempat tinggi, namun masalahnya adalah: saya takut ketinggian!

Bila saya berada di tempat yang tinggi,  tiba-tiba saja saya merasa sekecil semut, lutut menjadi lemes, keringat dingin mengucur dan pikiran menjadi aneh, lalu berkecamuk pertanyaan-pertanyaan: “Bagaimana rasanya bila saya terpeleset?”, “Bagaimana bila saya kehilangan keseimbangan?” hiiii…. pasti bukan sesuatu yang menyenangkan bila jatuh dari ketinggian. Saya teringat ketika masih di SMA,  saat naik kelas 3, ruang kelas kami berada di lantai 3. Beberapa waktu lamanya saya harus “berjuang” melawan phobia ketinggian saya, sampai akhirnya terbiasa naik dan turun tangga sekolah (bayangkan, hanya lantai 3!). Meskipun demikian, saya berusaha selalu melawan ketakutan saya, dan untungnya, meskipun saya harus berada di tempat yang tinggi, paling tidak masih ada pagar atau dinding kokoh yang melindungi, sehingga perasaan takut bisa ditekan.

Tahun lalu, ketika saya baru bergabung di tempat saya bekerja sekarang, pimpinan meminta dibuatkan peta rute survey udara di daerah utara Propinsi Kalimantan Timur, lengkap dengan titik-titik yang harus dilalui oleh pesawat charter-an. Sampai disitu, semua beres, rute yang saya siapkan juga sudah sesuai dengan keinginan pimpinan, dan sudah dalam format yang bisa dibaca pilot, lengkap dengan perkiraan durasi terbang untuk estimasi bahan bakar pesawat. Namun yang cukup membuat jantung saya melompat adalah, saya diajak pimpinan untuk turut survey udara, karena memerlukan staff GIS untuk merekam trek di GPS dan merekam gambar perjalanan survey dengan handycam.

Akhirnya, tibalah hari pelaksanaan survey udara. Pagi-pagi sekali saya tiba di bandara udara Temindung. Salah seorang rekan dari kantor yang sudah berada di sana menunjukkan hangar pesawat yang akan kami naiki. Jangan membayangkan hangar pesawat yang besar seperti di film-film, hangarnya keciiiilllll sekali. Dan yang membuat saya terkena serangan jantung yang kedua adalah, pesawatnya sangat, sangat, sangat, teramat kecil. Pesawat itu maksimal hanya dapat mengangkut 6 orang, itupun sudah termasuk pilot. Kabinnya sangat kecil, bahkan lebih kecil dari kabin mobil mini van (ihiks!!).

Serangan jantung ketiga saya adalah, ketika mengetahui bahwa sang pilot (yang orang Amerika itu, dan cukup lumayan untuk cuci mata… hehehee…) sedang mengutak atik dinding sebelah kanan pesawat, dan ternyata dia sedang melepasnya!. Alasannya, karena untuk survey dan merekam gambar dengan handycam, diperlukan view yang jelas, dan oleh karena itu dinding sebelah kanan dilepas (wuih…!!). Serangan jantung keempat yang menyusul kemudian adalah, karena saya yang bertugas merekam gambar, maka  sayalah yang harus duduk pada kursi dengan dinding yang terbuka itu (wow.. way to go girl, great!! And.. please, don’t try this at home!).

Sampai saat itu, pengalaman saya naik pesawat yang terkecil adalah pesawat charteran dengan kapasitas 10 orang. Saat itu kami melihat daerah bekas kebakaran hutan dan lahan yang cukup luas di sekitar Canberra beberapa waktu sebelumnya, yang bahkan sampai membakar pemukiman dan menelan korban jiwa. Pengalaman yang juga memacu adrenalin dan menyebabkan kuping kanan saya sakit selama 3 hari karena selama di pesawat, suara mesin sangat nyaring dan saya juga harus menterjemahkan penjelasan dan diskusi di pesawat tersebut kepada peserta pelatihan dari tanah air (mungkin ini bisa dijadikan tulisan juga yaa… Gimana? Setuju? :-)).

Selanjutnya, saya mendapatkan serangan jantung keempat. Itu terjadi saat pesawat dikeluarkan dari hangar yang hanya seluas garasi dua mobil itu. Caranya: pilot dibantu seorang petugas bandara mendorong pesawat itu keluar. Yup, mendorong dengan tangan, dan hanya berdua. Akhirnya, setelah bahan bakar diisi ke pesawat dari drum, tibalah saatnya kami naik ke kabin. Tidak ada lorong untuk berjalan, kursi letaknya berdempet-dempet dua-dua. Pimpinan saya duduk paling depan di samping pilot, kemudian dua orang dari instansi mitra duduk dibelakangnya, lalu saya dan seseorang dari perusahaan konsesi pada baris terakhir. Saat saya mengikat sabuk pengaman, rekan yang ikut mengantar bercanda, “Sudah menyiapkan surat wasiat?” sambil tersenyum-senyum.. ughh… canda yang tidak tepat disaat saya harus berkutat melawan phobia saya.

Akhirnya pesawat mulai berjalan menuju landasan. Saya mulai menyiapkan handycam dan GPS. Karena tangan saya penuh dan takut GPS terjatuh, akhirnya saya minta tolong orang di samping saya untuk memegangkan. Saya coba untuk berkonsentrasi merekam gambar dan mengusir dengan kejam pikiran-pikiran dan perasaan tidak enak, mencoba menikmati pemandangan permukaan bumi. Angin sangat deras, dan sesampainya di atas, saya betul-betul merasa kedinginan. Saya tidak menyiapkan baju hangat, karna saya tidak mengira akan sedingin itu. Setelah 1 jam pertama berkutat dengan phobia, akhirnya saya mulai pelan-pelan dapat menikmati penerbangan itu, mulai berani mengeluarkan tangan (tali handycam saya ikat erat-erat di pergelangan tangan), mulai berani menggeser kaki saya (itu artinya keluar pesawat, karena lantai pesawat batas luarnya hanya sejengkal dari sisi kanan kaki saya).

Setelah kurang lebih hampir 3 jam mengawang-awang, akhirnya kami mendarat kembali dengan mulus di bandara Temindung. Dengan rambut yang sekeras kawat dan perut kembung karena diterpa angin deras terus-menerus. Namun yang jelas, ternyata saya bisa menikamati survey udara tersebut meskipun tetap saja saya belum bisa menyembuhkan phobia saya dan akan berpikir panjang bila diminta turut survey udara dengan pesawat tanpa dinding…(J ) Satu pengalaman lagi yang memberi warna dalam hidup saya, dan yang membuat saya selalu ingat untuk mensyukuri hidup.

Bookmark and Share

Menulis Dan Membaca

June 20th, 2006 by lennychristy

Menulis.

Mengarang.

Sungguh, saya belum terbiasa dengan kegiatan yang satu ini. Saya ingat semenjak saya duduk di bangku SD, saya paling malas saat ujian Bahasa Indonesia. Biasanya dibagian essay, selalu ada soal untuk membuat karangan singkat tentang topik tertentu. Apa yang mesti saya tulis? Setiap kali seperti itu. Sejak sistem durasi pendidikan berdasarkan semester, kemudian catur wulan, dan kembali ke semester lagi, tetap saja saya tidak suka mengarang…

Tapi beda dengan membaca. Wow, saya suka sekali membaca komik dan majalah…hehehee… Sewaktu saya masih SD, uang saku saya belum cukup untuk membeli komik atau majalah anak-anak. Biasanya uang saku saya tabung untuk membayar uang sekolah (sungguh!). Ibu saya hanya sekali-sekali saja membelikan Donal Bebek atau Bobo. Jadi biasanya saya meminjam kepada teman sekelas yang berbaik hati meminjamkan kepada saya (thank you my friend, meski saya tidak tau dimana dirimu berada sekarang). Selain Donal dan Bobo, sesekali saya dipinjami serial cerita anak terbitan Balai Pustaka, yang membalik halamannya pun saya sangat berhati-hati, takut lecek, karena buku-buku itu indah sekali. Sampulnya tebal, di dalamnya gambar-gambar ilustrasinya indah sekali, full color pula! Saya juga gila sekali dengan komik Tintin. Cerita dan gambarnya sangat menarik buat saya, bahkan sampai sekarang.

Beranjak SMP, kemudian SMA, saya mulai membaca Novel. Saat itu saya suka membaca Novel Lima Sekawannya Alfred Hitchcock (bener ya nulisnya?), Novel-novel karangan Enyd Bylton (maaf… kalo salah tulis) yang membangkitkan fantasi saya. Selain itu saya juga mulai menyukai buku-buku Agatha Christie (sumpah, bukan karena ini nama belakang saya Christy). Semuanya juga dari kebaikan hati teman-teman dan perpustakaan dimana saya bisa meminjam koleksi buku-bukunya.

Nah, setelah saya mulai bekerja dan punya penghasilan sendiri, saya sangat terobsesi untuk memiliki buku-buku sendiri (masa seumur hidup minjam terus sih?). Pelan-pelan, sedikit-sedikit, bila ada sedikit rejeki, saya mulai mengumpulkan koleksi buku saya. Saat ini walau tidak banyak, saya udah memiliki lebih dari 40 judul Novel Agatha Christie dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, beberapa judul komik Tintin dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Jerman (waduuuh… nyarinya susah banget nih komik), beberapa novel Marry Higgins Clark, Dan Brown, beberapa komik Spirou & Fantasio (itu yang punya binatang peliharaan bernama Marsupilami), beberapa komik Asterix & Obelix (heheheee), beberapa buku literatur komputer dan majalah-majalah, buku, novel dan komik lainnya (Chip, Intisari, Reader Digest, buku-buku motivasi, kesehatan, gender, dll). Semua “harta karun” saya, seperti layaknya harta karun, saya perlakukan dengan penuh kasih.. hehee.. maklum, semua dikumpulkan dari keringat dan air mata (ck..ck.. dramatis banget yach).

Namun, muncul masalah lain. Yup, masalah sekarang adalah space… alias tempat. Di mana saya harus menyimpan semua “harta karun” saya itu? Kamar tidur saya tidaklah besar, hanya sekitar 4 X 3 meter. Belum lagi lemari pakaian dan “harta karun” saya yang lain, CD. Hmmmhhh…. Sekarang saya terobsesi punya perpustakaan pribadi. Aduh! Well, kembali ke topik di awal, akhirnya saya mencoba untuk mulai menulis, alias mengarang. Walau saya belum PD, moga-moga dengan mulai memberanikan diri menulis (mengetik tepatnya ) saya juga bisa belajar banyak. Paling tidak, sekedar untuk merekam pengalaman pribadi saya, uneg-uneg atau pemikiran (waduh… kayaknya “berat” banget nih kata…pemikiran…ga janji heheheeee).

(Samarinda, Office, 20.06.06 21:10)

Bookmark and Share

Kucing VS Anjing

June 20th, 2006 by lennychristy

Mungkin ini bukan sesuatu yang aneh, dan orang-orang juga pernah melihatnya. Tapi buat saya tetap saja aneh. Dua hari yang lalu, saat saya mengeluarkan motor dari pekarangan rumah, hendak berangkat ke kantor, tanpa sengaja saya melihat seekor anjing tetangga yang sedang melintas cepat, lari terbirit-birit. Tidak jauh dibelakangnya, tampak seekor kucing berwarna hitam putih, dengan bulu tubuhnya yang berdiri semua, sedang berlari (tapi tampaknya sambil melompat-lompat seperti kelinci) mengejar anjing berbulu coklat muda itu.

Saya sempat tertegun sejenak, tampaknya ada yang salah dengan pemandangan ini. Bukankah biasanya anjing yang mengejar kucing? Apalagi anjing tetangga itu tubuhnya mungkin 5 kali lebih besar dari tubuh kucing yang mengejarnya. Ditambah lagi setelah si anjing menghilang di semak-semak, si kucing berhenti mengejarnya, tapi punggungnya masih melengkung, siaga untuk mengejar lagi apabila si anjing berani menampakkan batang hidungnya. Lumayan, suguhan pemadangan saat akan memulai hari, cukup menggelitik logika. Hmm… nampaknya dunia sudah semakin tua.. This odd world…

(Samarinda, Office, 20.06.06 21:00)

Bookmark and Share